Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Razul Akmal Angkat Cerita Sejarah Putri Nurul A’la Pada Kegiatan FLS2N Tingaktat SD/MI UPTD Peureulak 2018.

Sabtu, 28 April 2018 | 2:58 pm
Reporter: Muhammad Tahib
Posted by: Darul Kutni
Dibaca: 124

Razul Akmal, Siswa SDN 3 Peureulak, sedang melaksanakn aksinya di atas panggung Seni di Acara lomda FLS2N tingakt SD /MI UPTD Peureulak 2018, dalam bercerita dan peragaan Kisah sejarah kerajaan Islam Asia Tenggara yakni kisah Putri Nulur A’la. Sabtu (28 April 2018) di halaman SDN 1 Peureula

 

Razul Akmal, Siswa SDN 3 Peureulak, sedang melaksanakn aksinya di atas panggung Seni di Acara lomda FLS2N tingakt SD /MI UPTD Peureulak 2018, dalam bercerita dan peragaan Kisah sejarah kerajaan Islam Asia Tenggara yakni kisah Putri Nulur A’la. Sabtu (28 April 2018) di halaman SDN 1 Peureula

 

Aceh Timur LintasPe –

Sejarah Putri Nurul A’la merupakan suatu cerita sebuah peradaban dimana saat perkembangan penyebaran Ajaran Islam yang pertama di Peureulak yang merupakan Islam pertama di Asia Tenggara Abat Ke 6 Hijriah atau 12 Mesehi pada masa kekuasaan Sultan Abdul Syah, pimpinan kerajaan peureulak yang didampingi Istri tercintannya Putri Syarifah Azizah, sangat disangkan sudah memasuki masa 10 tahun pernikahan Sultan bersama Putri Syarifah Azizah kedua pasangan tersebut belum dikaruniai anak.

Cerita sejarah beradaban perjalanan pemimpin kerajaan Islam pertama Asia Tenggara di anggkat oleh salah seoarang murid Sekolah Dasar Negeri 3 Kecamatan Peureulak yang bernan Razul Akmal, di Acara Festifal Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tingkar SD / MI yang diselengarakan Panitia Lomba UPTD Kecamatan Peureulak, pada Sabtu ( 28 April 2018) berlokasi di Halam SDN 1 Peureulak.

Razul Akmal, merupakan anak dari pasangan Jailani dan Nurlaila , warga Gampong Bangka Rimung Kecamatan Peureulak, saat ini Razul Akmal masih duduk di Bangku Kelas V SDN 3 Peureulak, Ia mampu bercerita tentang sejarah-sejarah yang Ia sukai dan saat Razul melakukan acting dalam cerita pada setiap lomba tingkat siswa-siswi sekolah Dasar di atas panggung anak 13 tahun itu sedikitpun tidak merasa canggung, bahkan para peserta yang menyaksikan aksinya sangat bersemangat menyimak satu persatu cerita yang Ia sampaiakan di hadapan public, Tanpa menggunakan teks dengan berbagai gerakan yang Ia terukan seakan menggambarkan begitulah cerita yang sebenarnya terjadi. Bahkan Razul saat berakting juga menggunakan alat seperti pedang mainan, kertas surat, cincin dan alat peraga laianya yang dia gunakan sebagai gerakan praktek langsung menggambarkan cerita yang sebenarnya.

Inilah cerita yang di sampaiakn Razul di hadapan Dewan Juri dan Para Tamu undangan yang telah hadir di ajang lomba seni siswa tingkat SD/ MI.  – diawal kisah Kerajaan Islam Peureulak pada abad ke 6 Hijriah atau 12 Masehi, Sultan Abdullah Syah pemimpin kerajaan peureulak yang didampingi pemaisurinya Putri Syarifah Azizah, namun sayang sudah berjalan 10 tahun usia pernikahannya kedua pasangan ini belum juga di karuniai anak, kemudian merekan berdua bernazar dengan memohon kepada Allah “ Ya Allah Ya Tuhan kami, karuniakanlah kami seorang anak, sebagai tanda syukur kami kepaga Mu Ya Allah, disaat turun tanah (istilah tepung tawar) nanti akan kami mandikan ditepi laut dengan acara Khanduri untuk fakir miskin dan anak yatim”, Begitu meraka bernazar dengan harapan Allah mengabulkan permintaanya.

Taklama kemudian tuan putri Syarifah Azizah istri Sultan Abdulah Syah di karuniai seorang anak putra yang diberinama Banta Ahmad, kemudian berselang selama 2 tahun Sultan kembali dikaruniai anak lagi adiknya Banta Ahmad yang diberikan nama Putri Nurul A’la, setelah abang Nurul A’la yakni Banta Ahmad anak pertama Sultan berusia 4 tahun usia putrid Nurul A’la sudah memasuki 2 tahun. Saat ini Sultan dan Istrinya tiba saatnya melaksanakan Nazar niat sebelumnya merekan inginkan disaat memohon kepada Allah untuk dapat dikaruniai anak, untuk memandikan Banta Ahmad ditepi Laut, tak diduga sebelumnya tiba – tiba datang seekor ikan Hiu yang sanagt besar langsung menerkam Banta Ahmad, dengan sekejabnya si Hiu pun hilang dari penampakan menuju laut lepas.

Ketika itu susasanapun menjadi kacau balau dengan kepanikan, Ibunda Banta Ahmad hanya mampu menangis kesedihan meratapi Putra pertamamnya hilang ditelan hiu ganas, “ tolong anak saya sudah dibawa ikan, tolong begitulah teriakan sang ibunda. Kemudian para ahli nujum yang hadir di acara tersebut menasehati tuan putrid Syarifah dan Sultan, “wahai tuan Sultan dan tuan Putri janganlah risau, tuan Banta Ahmad adalah anak yang bertuah, dia pasti selamat, kelak Tuan Putru Nurul A’ala yang nantinya akan menjeput abangnya Tuan Banta Ahmad di negeri Jawa, wahai tuan putrid bersabarlah, menurut ilmu kami kedua anak tuan putrid akan memegang peran penting di kerajaan ini kelah, demikian nasehat para ahli nujum kepada tuan Sultan dan Tuan Putri.

Permaisuri sedikit lega, namun tetap juga menangisi anaknya Banta Ahmad yang telah hilang dibawa ikan hiu ganas ke laut lepas, Hari pun berganti Bula, Bulan berganti Tahun, adiknya Banta Ahmad yakni tuan Putri Nurul A’la telah menjadi remaja yang berusia 15 tahun, Putri Sulta dan Tuan permaisuri sangat cantik bahkan sopan, bukan itu saja putrid Nurul A’la memiliki kecerdasan yang luar biasa bahkan sikap dan perilakunya menampakakn pemberani punya rasa tanggung jawab, seusianya saat ini Putri Nulul A’la sudah mampu menghafal Al’quran, dan menguasai ilmu pedang dan ilmu beladiri silat.

Di suatu ketika Ibunda tuan putrid Syarifah Azizah, meceritakan kepada tuan putrid Nurul A’la, bahwa abangnya yang bernama Banta Ahmad hilang sampai saat ini belum diketahui keberadaanya kerena ditelan ikan hiu ganas ketika mandi di pingiran laut, kesedihan juga Nampak diwajah ibunda saat menyampaikan pengalaman duka pahit kepada putrinya Tuan putrid Nurul A’la, ketika setelah mendengar kisah haru yang disampaiakan ibunda tercintanya, timbulah keinginan tuan putrid Nurul A’la untuk mencari abangnya Banta  Ahmad.

Setelah itu, putrid cantik Nurul A’la, mejumpai ayahnya Tuan Sulta Abdulah Syah, dan meminta kepada ayahandanya untuk dapat membuat sebuah Bahtera (tongkang) sebanyak 7 bahtera untuk disiapkan guna menemani perjalannan tuan putrid Nuru A’la yang ditemani Putri Nurkhadimah dan sejumlah pengawal dalam usaha pencarian dan menjemput Banta Ahmad. Berangkatlah mereka dengan 7 bahtera yang telah dipersiapkan oleh Sultan, dalam perjalanan tidak semulus yang dibayangkan, disaat berada di lokasi Laut Jawa bahtera Putrid an rombongan diserang, korbanpun berjatuhan, serangan demi serangan yang dilakukan pihak kerajaan Jawa telah menghabat perjalanan pencaharian Banta Ahmad.

Banta Ahmad sudah menjadi Raja di Tanah Jawa, Ia tidak mengetahui bahwa bahtera yang diserang para perajuritnya di tengah Laut Jawa adalah rombongan Adiknya yang rencana ingin mencari Banta Ahmad untuk dijemput pulang ke tanah kelahirannya, tanpa disadari Raja Banta Ahmad terus menerus menyerang rombongan bahtera Putri Nurul A’la. Dalam perseteruan rombongan Putri Nurul A’la dan Pasukan Kerajaan Jawa, Putri mengirimkan sebuah surat dengan bedil hidmat yang ditembakan kearah pasukan kerajaan Jawa pimpinan Paduka Ahmadsyah dengan bunyi isi surat, “Wahai Paduka raja Ahmadsyah, di Laut bukan musuh tapi putrid Nurul A’la datang menjemput”, sekian, Puji Syukur kepada Allah.

Selanjutnya putrid Nurul A’la, turut juga melemparkan cincin yang di ikat dengan sapu tangan yang kebetulan jatuhnya tepat didekat baginda Raja Ahmadsyah yang tak lain adalah Banta Ahmad, Banta Ahmad memperhatikan cincin ternyata tidak asing baginya sang Raja terhadap sebuah cincin yang jatuh tepat di depannya yakni cincin Ayahandanya dan sebuah surat dari seoarng adiknya, singaktnya terjadilah pertemuan abang beradik yang sangat mengharukan tersebut, sambil berlari Putri Nurul A’la meneyebut Abang loen………(Abang Ku) bersamaan juga berlarilah Banta Ahmad dengan sebutan yang sama Adik Loen………(Adikku), suasana berubah menjadi sangat terharu saat mereka saling berpelukan melepaskan kerinduan yang mendalam antara abang dan adik yang telah sangat lam berpisah.

Selama 7 hari Putri dinegeri Jawa, Banta Ahmad dan adiknya putrid Nurul A’la serta rombongan yang masih hidup pulang menuju Peureulak, dimana tempat kedua kakak beradik dilahirkan, Sultan dan permaisuri menyambut kedatangan anak laki-lakinya yang sudah lama menghilang ditelan hiu ganans di Laut lepas sejak 15 tahun silam. Acara penyambutan sang Putra mahkota dilaksanakan dengan meriah.

Kemudian Banta Ahmad pemimpin kerajaan Ayahandanya besrta adiknya Putri Nurul A’la, sebagai pemimpin tidak lain tugasnya adalah membuat rakya hidup sejahtera aman tenteram dan damai, setelah itu Banta Ahmad menikah dengan Putri Nurkhadimah dan Putri Nurul A’la juga dilamar oleh Prabu Tapa yang berasal dari kerajaan Mataram, perjalanan rencana perkawinan putrid Nurul A’la dengan Prabu Tapa dari Mataram tidak berjalan mulus, sebab Putri Nurul Ala’ tidak mersa suka dengan Prabu Tapa, maka tuan putrid juga meminta syarat untuk dapat menerima prabu tapa yakni, Prabu Tapa dimeinta agar mau menuntut Ilmu Gama Islam selama 10 Tahun di salah satu bukit yang disebut Bukit Cot Cibre, Prabu Tapa juga setuju dengan persyaratan tersebut, penolakan yang dilakukan atas lamaran Prabu Tapa kepada Tuan Putri Nurul A’al, karena tuan putrid telah memiliki kekasih yang bernama Sultan Meurah Kamaruzaman, mereka saling kasih.

10 tahun kepemimpinan Banta Ahmad, Ia pun meninggal, tujuh hari meninggalnya Banta Ahmad, Nurul A’la pun meninggalkan Istana dengan membawa duka nestapa tanpa diketahui kemana arah dan tujuannya, Nurul A’la memohon perlindungan dari Allah dan meninggalkan urusan dunia, Ia bersembunyi di Negeri Batu, sementara Prabu Tapa yang telah menyelesaiakan syarat yang diberikan putrid Nurul A’la untuk belajar Ilmu Agama Islam selam 10 tahun telah diselesaikannya, bahkan Prabu Tapa menaruh curiga kepada Nurul A’la  sepertinya tuan putrid canti tersebut ingkar janji, Ia Prabu Tapa sanga marah dan mengamuk, bahkan membunuh bila bertemu dengan siapa saja ditemuainya, dan para penduduk menyerbu Prabu Tapa sehingga Prabu Tapa merengang nyawa, dan selanjutnya jasatnya di kebumikan di Desa Teumpeun dengan sebutan Gampung Teungku Dibeungeh ( Teungku Marah).

Mendengar kabar Prabu Tapa meninggal, putrid Nurul A’la pun kembali, Ke Istana Krueng Tuan dan berhubungan kembali dengan Sultan Kamaruzaman, mereka berencana menikah, namu Allah berkendak lain, Sultan Kamaruzaman berangkat ketanah Suci menunaikan Ibadah Haji dan melanjutkan kuliahnya selama Lima tahun, sekembalinya Sultan Kamaruzaman ke Peureulak, Ia mendengar kabar bahwa putrid Nurul A’la telah meninggal dinia, kamaruzaman merasa sangat sedih, tak lama Sultan juga meninggal.

Kisah sedih haru penuh duka perjalanan kisah keluarga kerajaan Ilan Peureulak, konon menurut ceritanya beberapa hari berselang setelah tuan putrid Nurul A’la meninggal dunia, seluruh Mahligai yang dibangun khusus untuk tuan putrid, turut meraung raung dengan dahsyatnya dan melayang di udara, berputar putar kemudian turun ke dalam kolam putrid Nurul A’la, hilang tenggelam. Demikian cerita yang di sampaiakan Razul Akmal pada pentas Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). SD/MI 2018. Sebelumnya pada acara lomba cerita tingkat Kabupaten bagi peserta tingkat SD / MI yang diselenggarakan Dinas Perpus Arsip Aceh Timur Sabtu ( 27 April 2018), Razul Akmal yang juga anak Jailani (Esk GAM), panglima wilayah peureulak telah mendapat juara 1 pada lomba bercerita dari kantor Perpus Arsip Aceh Timur.

Kepala UPTD Peureulak, Muslim Z. S.Pd , MPd, Ketua Panitai FLS2N Tingkat SD/MI 2018, kepada media lintas Perintiwa.com. ( 28 April 2018), pada acara tersebut, mengucapakan terimaksih kepada para guru pembimbing, dan anak -anak didik para peserta lomba yang mewakili masing-masing sekolah, serta para panitia, pihak media tokoh pendidikan seluruh masyarakat umumnya, bahwa kegiatan rutin tahunan yang kami laksanakan adalah merupakan bentuk praktik langsung atas kreatifitas anak-anak didik untuk dapat berkreasi kea rah lebih baik, sehingga orentasi arah kebijakan pendidikan sejalan dengan perkembangan jaman yang sedang berjalan, “Kata Pak Lem, panggilan akrabnya.

Hari ini kita seluruh panitia dan para peserta lomba membagi dua kegiatan sekaligus, yakni bidang FLS2N yang terdiri Nyanyi tunggal, seni tari, gambar bercerita dan pantomin, dan untuk Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat UPTD Peureulak, di antaranya ; Bulu tangkis, Atletik, Karate, dan Pencak silat. (Muhammad Thaib)

 

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.