Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Batik Gambo, Jumputan Khas Muba Nan Modis

Selasa, 2 Oktober 2018 | 5:48 pm
Reporter: RilisPemkabMuba
Posted by: lintas peristiwa
Dibaca: 114

Thia Yufada benar-benar sedang antusias memperkenalkan kain jumputan tradisional khas Musi Banyuasin (Muba). Selasa (02/10/2018)

Thia Yufada benar-benar sedang antusias memperkenalkan kain jumputan tradisional khas Musi Banyuasin (Muba). Selasa (02/10/2018)

Thia Yufada benar-benar sedang antusias memperkenalkan kain jumputan tradisional khas Musi Banyuasin (Muba). Selasa (02/10/2018)

Muba Sumsel LintasPe-

Tanggal 2 Oktober 2009, Batik diakui PBB sebagai warisan dunia. Melalui UNESCO batik ditetapkan sebagai warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the oral and Intangible Heritage of Humanity). Indonesia sebagai pelaku utama tradisi Batik layak bangga.

Penetapan tanggal 2 Oktober ini menjadi Hari Batik Nasional, salah satu pengakuan dari pelaku dan bangsa kita. Beragam lapisan masyarakat dan pejabat pemerintah dan pelajar disarankan untuk menggunakan batik pada tanggal ini.

Batik, tradisi mode perkainan diwujudkan dengan teknik penggunaan ‘malam’ untuk menutupi sebagian dari kain dalam pewarnaan. Dengan teknik tersebut dibuat motif-motif tertentu yang memiliki keunikan dan arti tertentu. Diperlukan kesadaran dan transfer pengetahuan untuk melestarikan budaya batik ini sampai ketingkat pengrajin local yang dikerjakan secara manual dengan tangan (batik tulis).

Sebagai rasa bangga, Muba punya cara nyata mengungkapkannya. Batik Gambo (Gambir), khas jumputan, jenis batik yang dikerjakan dengan teknik ikat celup untuk menciptakan gradasi warna yang menarik. Tidak ditulis dengan malam seperti kain batik pada umumnya, kain akan diikat lalu dicelupkan ke dalam warna. Teknik celup rintang, yakni menggunakan tali untuk menghalangi bagian tertentu pada kain agar tidak menyerap warna sehingga terbentuklah sebuah motif. Gambo Muba, adalah tren mode baru batik jumputan dengan sentuhan moderen.

Dimotori Ketua TP PKK Muba, Gambo Muba hadir di booth-booth mewah di ibukota. Bukan saja moderen secara proses pembuatan namun juga moderen baik tampilan maupun jangkauan pasarnya. Gambo Muba secara masif menyentuh kalangan selebritas ibu kota Jakarta. Thia Yufada benar-benar sedang antusias memperkenalkan kain jumputan tradisional khas Musi Banyuasin (Muba)

Ia ingin daerah yang dipimpin suaminya, Dodi Reza Alex itu punya kekhasan yang bisa dibanggakan. Namanya kain Gambo. ( batik jumputan “gambo muba”
Gambo diberi nama demikian karena kain jumputan ini pewarnaannya berasal dari gambir. Gambir biasa disebut gambo oleh orang sekayu.

Menurutnya, kain jumputan Muba ini punya ke-khasan sendiri dibandingkan jumputan lainnya. Yang pertama dari mulai bahan pewarna yang menggunakan bahan alami dari getah gambir.

“Jadi gambir dari Babat Toman itu paling berkualitas menurut penelitian,” ungkapnya.

Sejarahnya, teknik jumputan yang berasal dari negeri tirai bambu ini dibawa oleh para saudagar India. Karena keragaman warna dan motif yang indah, maka teknik ini pun berkembang di nusantara. Di Indonesia, batik jumputan biasa diproduksi oleh beberapa daerah tertentu seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Bali palembang dan Musi Banyuasin yang saat ini go international adalah batik Jumputan “Gambo Muba” dan masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri pada motifnya.

Ketua Dekranasda Muba yang juga Penggagas Gambo Muba, Thia Yufada mengatakan dirinya akan terus berusaha maksimal untuk memperkenalkan Gambo Muba di Nusantara maupun internasional. “Alhamdulillah saat ini Gambo Muba mulai dilirik dan mampu bertengger di industri fashion baik di level nasional dan internasional,” bebernya.

Lanjutnya, saat ini sudah ada beberapa produk kreasi “Gambo Muba”dan akan terus berinovasi untuk kebutuhan industri fashion. “Sesuatu yang tidak berguna kami coba manfaatkan dengan maksimal agar mampu bernilai tinggi dan menghasilkan sesuatu yang luar biasa untuk perkembangan industri tekstil,”

Ketua TP PKK Muba ini juga menambahkan, adanya getah Gambir di Kabupaten Muba ini seperti menjadi sebuah harta karun yg bernilai tinggi yang bisa dimanfaatkan lebih luas dalam mengurangi pemakaian zat kimia dalam industri kain lokal. “Ini juga bagian dari upaya untuk mengangkat kearifan dan kebudayaan lokal di Muba,” ulasnya.

Diketahui, Pameran Kriyanusa dalam rangkat HUT Dekranasda diikuti seluruh perwakilan Dekranasda di Indonesia yang digelar 26 – 30 September 2018 yang juga berbarengan dengan Hut Muba ke 62 tahun 2018 dan disaat acara HUT muba seluruh jajaran perangkat daerah dengan bangga menggunakan gambo muba ini, dan dihari ini tanggal 2 oktober 2018 merupakan hari batik nasional dengan bangga kami promosikan batik Jumputan gambo muba adalah kreasi Lokal muba yang telah bertengger di tinggat nasional beber thiya, mari kita bangga menggunakan produk asli Indonesia khasnya kain jumbutan “gambo muba “ tutupnya. 

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.