Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Jeritan Hati Pedagang Pasar Randik, Terancam Gulung Tikar

Rabu, 27 November 2019 | 2:52 pm
Reporter: Winda Camelia
Posted by: lintas peristiwa
Dibaca: 3010

Suasana lapak pedagang yang paling pojok tidak pernah dilalui pengunjung, hingga ia rela menyewa dilapak yang dilalui pengunjung. Rabu (27/11/2019)

Pedagang kuliner yang belum dipindahkan ke los kuliner. Rabu (27/11/2019)

Pedagang sembako yang mendapatkan tempat di blok sayur. Rabu (27/11/2019)

Suasana para pengunjung memasuki blok tengah, sedangkan blok pojokan sepi pengunjung. Rabu (27/11/2019)

Suasana blok nampak lengang. Rabu (27/11/2019)

 

MUBA LINTASPE-
 
Para pedagang Pasar Randik menjerit, lantaran dagangannya tidak laku dan menguras modal. Jika modal telah terkuras, mereka khawatir akan gulung tikar. Hal itulah yang saat ini dirasakan para pedagang, namun Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Pemkab Muba) tidak peka akan hal itu dan ini harus menjadi atensi bagi Pemerintah.
 
Memasuki satu bulan sejak di relokasi nya pasar Talang Jawa (29/10), para pedagang mencoba berjualan di Pasar Randik, yang mana telah diberi secara cuma – cuma oleh Pemkab Muba melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian Muba.
 
Hari demi hari ia jalani berjualan di Pasar Randik, bukan untung yang ia dapat, malah rugi yang ia peroleh, seperti kata pepatah “Hendak Mengangguk Ikan, Tertangguk Batang”. 
 
Para pedagang berharap jika ingin memindahkan pedagang ke pasar randik, harusnya seluruh pedagang di Pasar Jalan Inpres hingga Pasar Perjuangan dipindahkan, akibat dari pasar terbagi dua menyebabkan sepinya pengunjung karena warga memilih berbelanja di pasar terdekat dan pedagang pun mengeluh.
 
Saat ditemui awak media lintaspe, Epen mengatakan bahwa pemerintah jangan tutup mata akan hal ini, jika memang untuk mensejahterakan masyarakat, pemerintah harus nya mendengar keluhan masyarakat. Rabu (27/11/2019)
 
Dalam hal ini, para pedagang meminta kepada pemerintah untuk memisahkan para pedagang dari los – los yang telah ditentukan, karena los – los tersebut membuat pedagang yang mendapat tempat paling ujung (belakang) seperti dianak tirikan.
 
“Didalam blok A, B dan C di beri tiga lorong ketika hendak memasuki nya, akan tetapi pengunjung memilih berjalan di lorong tengah, tentu pedagang yang di lalui tersebut lah yang merasa diuntungkan, sedangkan pedagang di pojokan termenung dalam lamunan menantikan pembeli yang tak kunjung datang. Alhasil, pedagang dipojokan berusaha mejajakan dagangannya agar segera habis, ia rela membayar untuk menempati tempat pedagang yang sudah pulang dan yang sering dilalui pengunjung itu”, ungkapnya.
 
Untuk itu, sambungnya, mewakili pedagang lainnya berharap pasar randik ditata seperti pasar sebelumnya, dimana pasar Talang Jawa pedagang sayur, ayam, ikan, kuliner, sembako dan lain – lain bercampur jadi satu, tidak diharuskan untuk disesuaikan dengan sejenisnya.
 
“Kami merasa sangat dirugikan dalam pemindahan pasar ini, tidak ada guna nya lagi jika kami sudah bangkrut, pasar randik baru lah ramai. Orang – orang baru yang akan meneruskannya”, tegas Epen.
 
Sebagai masukan, Fitri Lerian, seorang pedagang kelapa parut menambahkan bahwa jika memang pemerintah tidak ingin mencampurkan pedagang seperti pasar Talang Jawa, Ia meminta pedagang yang masih berjualan tidak pada tempat yang telah ditentukan sesuai jenisnya, dengan segera untuk dipindahkan pada los nya.
 
“Ini tampak jelas, para pengolah pasar tebang pilih, pedagang yang harus nya telah ditetapkan di los kuliner, tapi kenapa masih ada pedagang kuliner di los baju, begitu juga pedagang sembako, masih ada di los sayur. Tentu, hal itu harus dipindahkan pada tempat yang telah ia tentukan”, ungkap Fit panggilan akrabnya.
 
Sementara itu, Hamzah pedagang daging sapi menceritakan keluhan dan kesedihannya bahwa setiap harinya ia harus berangkat kepasar dini hari. Jika tidak, dagangan akan banyak tersisa karena langganan (kenyot) sudah pulang, dan pada matahari terbit sebagian pedagang berjualan diluar blok, karena pembeli lebih mudah, praktis, dan tidak memakan waktu jika berbelanja di luar.
 
“Dipasar ini pun jam 9 sudah mulai lengang, oleh karena itu, habis tidak habis barang dagangan kami, kami beranjak pulang kerumah. Pemerintah harus tau ini, akibat relokasi pasar ini omset kami menurun dratis. Nah siapa yang akan mengembalikan kerugian kami ini, jika terus seperti ini, kami akan kembali ke tempat yang lama, kami hidup butuh makan pak”, tutur warga Jalan Muara Teladan ini.
 
Maka dari itu, dirinya mengharapkan kepada Bapak Bupati beserta stafnya crosscheck perkembangan pasar Randik ini, dirinya sangat merasakan dampak sepinya yang diakibatkan pembeli yang tidak terlihat dari pantauan nya dari dalam blok.
 
“Selain itu, kami juga mengharapkan dinding – dinding blok yang menjunjung tinggi ini di dobrak, atau dibuatkan akses jalan yang agak lebar dan lebih dari satu, karena menurutnya pedagang yang di posisi pojokan sangatlah tidak di untungkan dan sangat panas didalam blok tersebut”, tambahnya.
 
Terpisah, Agu Sri warga Muara Teladan selaku Reseller (Kenyot) juga menyampaikan keluhannya bahwa para pedagang yang disesuaikan dengan sejenisnya, membuat ia berbelanja tidak enak hati. Karena langganan ia berbelanja bukan cuma satu.
 
“Ya, biasanya saya beli ayam langganan tiga tempat (pedagang) semua nya baik, tapi ketika beli ditempat si A, saya tidak enak hati jika dilihat si B dan si C, ya akhirnya saya pilih belanja diluar. Andai pedagang sejenis itu terpisah seperti pasar sebelumnya, akan lebih enak berbelanja”, keluh Agu.
 
Dewi, warga Talang Jawa, mengatakan bahwa dirinya berbelanja di Pasar yang lama. Menurutnya pasar talang Jawa masih lengkap untuk membeli keperluan dapur. Sehingga tidak perlu jauh – jauh membeli bumbu dapur ke Pasar Randik.
 
“Kami masih belanja di pasar sini lah dek, ngeri belanja dipasar randik, selain jauh, truk – truk Fuso membuat kami takut untuk kesana. Dipasar talang Jawa semua nya lengkap, cuma ikan pirik yang gak ada”, pungkas Dewi.
 

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.