Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Pandemi Covid-19, Usaha Rongsokan Macet Total

Kamis, 23 Juli 2020 | 9:47 am
Reporter: Winda Camelia
Posted by: Winda Camelia
Dibaca: 347

Suasana Slamet Sugiono di lokasi usahanya di jalan muara teladan. Kamis (23/07/2020)

Suasana Slamet Sugiono di lokasi usahanya di jalan muara teladan. Kamis (23/07/2020)

 

MUBA SUMSEL LINTASPERTIWA.COM –

Dampak pandemi Covid-19, menyebabkan perekonomian jadi tak menentu. Bahkan, sebagian besar pekerja dilanda beralih kerjaan untuk memenuhi kebutuhan dapur biar ngebul.

Seperti halnya, Slamet Sugiono warga Kelurahan Balai Agung Kecamatan Sekayu, seorang pengusaha barang rongsokan menjerit akibat anjloknya harga barang rongsokan seperti besi, tembaga, koran bekas, kardus, botol plastik, hingga kertas bekas.

Sehingga dirinya beralih menjual batu akik. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari nya, ia hanya mengharapkan batu akik nya laku terjual.

Sebelum wabah pandemi covid-19, barang rongsok yang kotor, busuk dan berkarat sangat menjijikkan ini di tangan mereka, ribuan ton barang rongsok jenis plastik, kaca, hingga kertas malah menjadi ladang sumber kehidupan.Karena macet beroperasi, berpengaruh pada penghasilan.

Slamet Sugiono, pengusaha rongsokan saat di temui awak media di lokasi usahanya mengungkapkan bahwa usaha rongsokan ini, produksinya itu mengekspor dan menerima impor. Jadi, usaha ini ada kaitannya dengan luar negeri. 

“Kalau untuk plastik itu China yang mengambilnya, kalau untuk besi itu India. Namun, semenjak Corona ini ya macet total karena usaha rongsokan sebagiannya itu banyak yang istirahat”, ungkapnya.

Hal ini, lanjut Slamet. Di karenakan penyebab utamanya ialah penjual itu menghawatirkan, sedang penerimanya itu sekarang banyak tutup atau nonaktif.

“Untuk harga beli sekarang ini harganya murah dari harga yang biasanya 5.000 menjadi 1.500, dari harga 25.000 menjadi 10.000. Akhirnya pemasok barang itu banyak yang malas”, tambahnya.

Diceritakannya, sebelum pandemi covid-19 ini seharinya mendapatkan penghasilan 3 jutaan, perbulannya mencapai 80 jutaan.

“Sekarang ini, untuk biaya kehidupan saja sulit. Orang yang menjual kesini itu, sehari paling ada 2 – 3 orang dengan jumlah yang tidak banyak. Artinya tidak sesuai dengan usaha yang saya kelolaj ini. Biasanya usaha yang saya kelola ini penuh, barang rongsokan melimpah-limpah”, terangnya

Harapannya, sambung Slamet. Wabah ini segera berlalu agar usaha yang dijalani lancar kembali karena begitu terasa penurunan harga-harga sejak bulan 12 tahun 2019 yang lalu hingga sekarang belum ada kenormalan ataupun kabar baik, dan juga pengolahan usaha ini bisa dikelolah di dalam negeri, tidak harus bergantung dengan negara lain untuk menerima atau menetapkan bahan-bahan.

“Dan bahkan untuk tahun ini, saya tidak pulang ke Jawa. Biasanya saya pulang ke Jawa itu, selain untuk bersilaturahmi dengan keluarga, mencari informasi harga-harga barang dan informasi bahan-bahan yang laku untuk dipasarkan di wilayah Jawa. Tapi sekarang ini, kesulitan selain ongkos dan juga peraturan-peraturan yang harus di patuhi”, tutupnya.

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.