Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Ulah Nasi Bungkus; Diduga Kapolres Nias Langgar Kode Etik Profesi Polri

Kamis, 14 Mei 2020 | 5:04 pm
Reporter: Selamat Harefa/ TIM
Posted by: redaksi
Dibaca: 7343

Photo Deni Kurniawan selaku Kapolres Nias saat dilokasi membagikan bantuan Nasi bungkus.

Photo Deni Kurniawan selaku Kapolres Nias saat dilokasi membagikan bantuan Nasi bungkus.

Gunungsitoli Lintas Peristiwa –

Dari pemberitaan sebelumnya dapat dibaca dilink http://lintasperistiwa.com/biro/sumut/nias/bantuan-nasi-bungkus-berujung-cacian-dan-makian-dari-kapolres-nias. ( 14/05/2020 ).

Setelah dikonfirmasi kepada bapak ama C H melalui via seluler contak person 08136231xxxx dengan 08126095xxxx ( 13/05/2020 ) yang menerima nasi bungkus dari kapolres nias pada tanggal 17 April 2020, ia mengatakan ” memang betul pada saat itu saya sudah menerima satu bungkus nasi dari kapolres nias tepatnya dipasar beringin depan kantor lurah pasar”. Ucapnya.

Lanjutnya, pada saat itu saya sedang bawa penumpang seorang perempuan separuh baya, tiba-tiba salah seorang oknum anggota Lalu Lintas (Lantas) menghentikan becak saya dikarenakan penumpang saya tersebut meminta satu pemberian dari Kapolres Nias,  malahan pemberian tersebut tidak jadi diberikan melainkan Kapolres Nias mengatakan kepada saya ” Jangan serakah kamu, Brengsek kamu”. Papar bapak ama C H.

Ditambahkannya lagi, pemberian Kapolres Nias tersebut berupa, Nasi Putih, Telur bulat, Sayur dan Aqua Gelas yang mana diperkirakan harga bantuan makanan itu sebesar harganya kurang lebih Rp 5000 ( lima rupiah ) tidak sebanding dengan kalimat yang ia lontarkan kepada saya, bahasa tersebut sangat merendahkan martabat kami selaku penarik becak”. Pungkasnya dengan Nada kesal.

Menanggapi  penyampaian pak Kapolres Nias tersebut, salah seorang Aktifis pemerhati  bernama Andi Harefa Aktifis pemuda, ia mengatakan “Tidak sepantasnya seorang pimpinan berjabatan Kapolres mengucapkan kata-kata ‘ Jangan serakah dan brengsek kamu, apalagi hanya gara-gara nasi yang harganya tidak seberapa itu, yang diminta oleh seorang ibu yang kebetulan menumpang diatas becak tersebut, serta memakai tongkat menunjuk para tukang  becak sebab pemberian bantuan nasi bungkus ini dampak dari pandemi covid 19 sehingga dapat saya katakan ” kalau memberi itu harus iklas dan sabar menghadapi realita dilapangan, jangan langsung emosi yang mana namanya bantuan pasti berebut apalagi dikalangan penarik becak yang mana status ekonominya cukup memprihatinkan atau ekonominya tergolong kebawah”. Ucapnya.

Selanjutnya, “Seharusnya kapolres nias sudah sebelumnya mendata berapa jumlah tukang becak dikota gunungsitoli dan untuk bantuan tersebut harus disediakan cadangan mana tahu ada penumpang pengendara tukang becak, sehingga aksi sosial yang dilakukan kapolres nias ditengah tengah panedemi covid 19 ini tidak terkesan pencitraan semata, toh juga para tukang becak itu adalah masyarakat yang membayar pajak dan pajak tersebut digunakan untuk pembayaran gaji polisi juga, jadi apakah seorang kapolres itu tidak mengetahui bila gaji dan fasilitas yang ia gunakan saat sebagian berasal dari hasil pajak para penarik becak. Jadi seharusnya seorang bapak kapolres tidak perlu mengucapkan kata kata kasar tersebut, sama ibarat majikan sudah memberi gaji, fasilitas tetapi kita sebagai karyawan atau bawahan masih  mencaci maki majikan kita, kan itu tidak pantas”. Tegasnya.

Lanjutnya, “Semestinya seorang Kapolres harus bisa menjaga Kode Etik Profesi Polri yang mana bunyinya tertulis bahwa “Norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan Kesatuan Landasan Etik atau Filosofis yang berkaitan dengan perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, patut atau tidak patut dilakukan oleh anggota polri dalam melaksanakan tugas, wewenang dan tanggung jawab jabatan”.

“Menurut hemat saya, seorang Kapolres Nias atas Nama Deni Kurniawan sudah memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat kalangan bawah apalagi di depan para anggotanya yang seakan akan menyuruh anggotanya untuk melakukan atau mengucapkan kata kata yang tidak terpuji itu kepada masyarakat kota gunungsitoli”. Katanya.

“Kami Meminta kepada  Komisi Kode Etik Polri supaya mendidik kembali atas nama Deni Kurniawan untuk menguasai dan mengamalkan Kode Etik yang baik ditengah-tengah masyarakat, supaya masyarakat bisa menerima keadaan polri dengan baik kedepan dimana pun saudara Deni Kurniawan bertugas. Tegasnya.( Selamata Harefa/TIM )

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.