Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Miris; Mahmud Harap Pemkab Muba Perhatikan Dampak Lingkungan

Sabtu, 9 November 2019 | 11:39 pm
Reporter: Red.
Posted by: Lintas Peristiwa1
Dibaca: 340
Kondisi wak tira di RSUD di temani suami.

Kondisi wak tira di RSUD sekayu di temani suami. Sabtu, (09/11/2019)

Kondisi wak tira masih dalam perawatan di RSUD Sekayu. Sabtu, (09/11/2019)

 

 

Sekayu LintasPe –

Supartira biasa dipanggil wak tira (84) Istri Pak H Supardi (98) alias Mbah Pardi yang tinggal di Jl. Kol. Wahid udin RT. 01 RW. 01 Tepatnya di Belakang Panjat Tebing diduga mengalami kelumpuhan akibat syok diterjang air hujan yang masuk kedalam rumah.

Kronologis Kejadian menurut keterangan keluarga, Malam Jum’at tanggal 01 oktober 2019 beberapa yang lalu, Ketika turun hujan wak tira dalam keadaan tertidur lelap dan ketika bangun 00.30 Wib Sabtu Pagi, beliau kaget karena air menggenang didalam rumahnya hingga tempat tidur beliau terendam air. Lalu beliau beranjak dan langsung membuka pintu rumahnya, mendadak ketika pintu terbuka terpahan air setinggi pinggul menerobos masuk kedalam rumah hingga menghantam tubuh tuah renta nenek tua ini hingga wak tira terjatuh dan pingsan.

Pihak Keluargapun/ budi (38) langsung mengambil tindakan dengan membawa ibu tira ke rumah keluarga atau anak menantu ibu tira tepatnya Mahmud di jalan tembus randik.

“Setalah kejadian itu ibu tira tidak sadarkan diri hingga siang harinya sabtu pukul 12.00 Wib”. Terang Mahmud.

“Selama tiga hari ibu tira mertua saya hanya terbaring ditempat tidur dan kondisinya memburuk sehingga akhirnya kami pihak keluargapun memutuskan untuk membawa ibu tira ke rumah sakit umum daerah sekayu (RSUD)”. Katanya.

Hingga berita ini diupdate menurut keluarga kondisi wak tira belum juga kembali normal seperti biasanya.

Sementara pihak keluarga berharap kepada pemerintah agar dapat memperhatikan dampak lingkungan dan memperhitungkan epek dari pembangunan yang sekarang dilakukan yaitu penimbunan lahan gelanggang remaja sekayu.

“Kami berharap agar pemerintah khususnya pihak terkait agar memperhitungkan sebab akibat dari penimbunan lapangan bundaran di lokasi panjat tebing ini”. Harapnya.

Lanjutnya “Karena selama puluhan tahun kami tinggal disini tidak pernah terjadi banjir air hujan menggenang hingga didalam rumah walaupun hujan sederas apapun tapi, sekarang saat dilakukan penimbunan lapangan ini, turun hujan baru sekali, airnya sudah masuk rumah hingga mencapai setinggi pinggul”. Ucap Mahmud.

“Jelaskan,? Ada Apa? Pak Wartawan. Sekali lagi tolong pak sampaikan keluh-kesah kami ini kepada mereka yang diatas”. Pintanya.

Sementara sampai berita ini terupdate, pihak pemkab muba khususnya pihak terkait belum bisa dimintai konfirmasi atas permaslahan ini.(red)

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.