Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Sampah Menggunung di Pasar Sekayu, Pemerintah Tutup Mata

Sabtu, 13 Oktober 2018 | 9:08 am
Reporter: Winda Camelia
Posted by: lintas peristiwa
Dibaca: 3194

Tumpukan sampah menggunung dipasar pagi sekayu. Sabtu, (13/10/2018)

Tumpukan sampah menggunung dipasar pagi sekayu. Sabtu, (13/10/2018)

Tumpukan sampah menggunung dipasar pagi sekayu. Sabtu, (13/10/2018)

Muba Sumsel LintasPe-

Tumpukan sampah menggunung dan berserakan dari sisa – sisa dagangan para pedagang pasar pagi Jalan Kapten A Rivai (Talang Jawa) Kelurahan Balai Agung Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengeluarkan aroma tak sedap, sehingga pedagang maupun pengunjung pasar banyak yang mengeluh.
 
Dari pantauan awak media lintaspe, tidak terlihat satupun petugas yang akan mengangkut sampah tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini nampaknya sengaja dibiarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Muba, seakan tutup mata pasca tidak berhasilnya pemerintah memindahkan pedagang dari pasar pagi Talang Jawa ke Pasar Randik pada tanggal 11 Oktober yang lalu dengan menurunkan 200 personil.
 
Pedagang tempe, Slamet Waluyo saat dijumpai awak media mengeluhkan adanya tumpukan sampah tersebut membuat kondisi pasar bertambah kumuh, selain tidak enak dilihat juga menimbulkan bau busuk dan dikhawatirkan akan berdampak terhadap kesehatan warga baik yang berbelanja ataupun yang berjualan. Sabtu (13/10/2018)
 
“Ini terkesan ada pembiaran ya, sejak pedagang pasar menolak pemindahan dipasar randik tumpukan pasar tiga hari ini sengaja tidak diangkut ke TPA, nampak nya pemerintah dendam akan hal ini. Nah, ini pembuktian bahwa pengelolaan pasar tidak bisa dijalankan oleh pemerintah dengan baik”, ucap pria keturunan jawa ini.
 
Ironisnya, kata dia. Dengan kondisi seperti itu para pedagang masih dikenakan retribusi untuk biaya kebersihan setiap harinya seribu rupiah. “Memang itu sebagian sampah kami para pedagang. Tapi kan kami bayar. Ini yang jadi masalah, sampah sengaja tidak diangkut, kok kami masih dipungut retribusi kebersihan? Menurut saya, kalau pedagang sudah bayar retribusi, seharusnya sampah di kelola dengan baik dan mengangkutnya lebih cepat”, beber imam sapaan akrab Slamet Waluyo.
 
Pemilik lahan, Desi Herawati saat dikonfirmasi awak media lintaspe menambahkan persoalan ini merupakan hal yang serius dan harus segera disikapi. Karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat, berkaitan dengan kesehatan dan keberlangsungan usaha mereka.
 
“Pembiaran ini kami harapkan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pengelola. Kalau pemerintah daerah tidak bisa menjaga lingkungan dipusat perekonomian warganya, itu kan berbahaya. Kementerian Lingkungan Hidup harus tau kondisi ini karena ini tidak bisa diterima dengan akal sehat”, kata dia.
 
Disampaikannya juga bahwa terkait sampah menggunung di sepanjang jalan Kapten A Rivai pihaknya telah menanyakan kepada sopir mobil yang mengangkut sampah, dan sopir tersebut mengatakan bahwa sesuai perintah atasan sampah tidak  boleh diangkut ke TPA.
 
“Kami telah menanyakan kepada sopir mobil sampah katanya atas perintah atasan sampah tidak boleh diambil, padahal kami setiap bulan dibayar terus sebesar Rp 650 rb /bulan untuk mobil pengangkut sampah dan 900rb / bulan untuk tukang sapu dari pasar kami, belum dari pasar syahrial dan lain – lain”, pungkasnya. (WindaC)

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.