Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Diduga Letkol Inf. TP. L S Langgar Aturan Kode Etik

Jumat, 6 Desember 2019 | 10:42 am
Reporter: Selamat Harefa
Posted by: Darul Kutni
Dibaca: 901
Photo Ketua Umum Di Kantor Markas Besar LMP KRISMAN ZEBUA Bersama H. Ade Erfil Manurung SH.red

Photo Ketua Umum Di Kantor Markas Besar LMP KRISMAN ZEBUA Bersama H. Ade Erfil Manurung SH.red

Photo Ketua Umum  Di Kantor Markas Besar LMP KRISMAN ZEBUA Bersama H. Ade Erfil Manurung SH.red
Photo Ketua Umum Di Kantor Markas Besar LMP KRISMAN ZEBUA Bersama H. Ade Erfil Manurung SH.red

 

Gunungsitoli LintasPe –

Dari berita yang diupdate media onlone lintasperistiwa.com seblumnya http://lintasperistiwa.com/biro/sumut/nias/dandim-0213-nias-diduga-mengintimidasi-anggota-jurnalis/, banyak perbincangan yang dimana arti mengintimidasi dan pengertiannya. ( 06/12/2019 ).

Salah seorang Advokat hukum yang tidak mau disebut namanya dalam pemberitaan ini, ia menjelaskan tentang pengertian intimidasi baik secara langsung maupun melalui via seluler, apa lagi seorang pejabat diduga Letkol Inf. TP. L S yang menyampaikan.

“Pengertian intimidasi adalah perilaku agresif yang disengaja untuk membuat tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologi, sehingga pada saat saya memahami percakapan melalui via seluler dengan bahasa seorang pimpinan seperti itu sudah termasuk ” intimidasi “. Kalau Pimpinan atau Pejabat yang berucap seperti itu telah melanggar kode etik yang diterapkan”, tuturnya.

Ditambahkannya lagi, “Pimpinan atau pejabat yang di duga Letkol Inf. TP. L S tersebut telah melanggar Kode Etik yang dimana “Tidak Bersikap Ramah Tamah Terhadap Rakyat, dan juga tidak Sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat. Kemudian dari bahasa ucapan seorang pimpinan yang begitu keras, tidak sewajarnya penyampaian tutur bahasanya itu kepada Rakyat apalagi terhadap insan pers, ormas, lsm dan sebagainya”, ucapnya.

Hal yang sama juga Krisman Zebua Koordinator ORMAS LMP Sekepulauan Nias menanggapi percakapan pimpinan tersebut kepada jurnalis “Diduga pimpinan tersebut melanggar kode etik yang diterapkan menteri pertahanan republik indonesia nomor 85 tahun 2014, dengan bunyi – “Bersikap Hormat Kepada Siapapun dan Tidak Menunjukkan Sikap Arogan Karena Kewenangan” – maka sebab itu tidak sepantasnya ia lontarkan bahasa tersebut, bahwa pers itu merupakan perpanjangan tangan dan mata pemerintah, apalagi seorang pimpinan tersebut terlampau arogan kalau ngomong dan sekarang bukan zamannya bentak-bentak”, ungkap Krisman Zebua. (Selamat Harefa)

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.