Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Prihatin Terhadap Pendidikan; Drs.Gafardin Lase,Ma “Panggil Tehego Ndraha

Rabu, 31 Oktober 2018 | 6:52 pm
Reporter: Tim
Posted by: Ahmad Jahri
Dibaca: 419

Keterangan foto : saat konfirmasi kepada siswa dijalan provinsi sogae'adu,dusun I.

Keterangan foto : saat konfirmasi kepada siswa dijalan provinsi sogae’adu,dusun I.

Nias,lintasPe-

Terkait pemberitaan sebelumnya,dapat dibaca dlink lintasperistiwa.com yang sudah tayang beberapa minggu lalu .(31/10/2018)

Drs.Gafardin Lase,MA Kepala cabang dinas pendidikan provinsi sumatera utara bertugas di wilayah gunungsitoli_kepulauan nias. saat dikonfirmasi oleh awak media di ruang kerjanya, Selasa 30/10/2018 di jalan patimura, dusun 1, desa mudik, kecamatan gunungsitoli, kota gunungsitoli.

Membenarkan, bahwa tehego ndraha telah memenuhi panggilan kami, pada hari; senin 29/10/2018 kemarin.

Kami telah menanyakan apa pokok persoalan atau kasus 2 orang siswa SMK Negeri 1 Sogae’adu kelas 12 yang telah viral dipemberitaan media massa. “apa saja pelanggaran yang dilakukan oleh 2 pelajar SMK Negeri 1 Sogae’adu kabupaten nias, sehingga siswa a.n Reformed stevanus lombu dan Siantori gulo jurusan teknik furnitur, dkembalikan kepada orangtuanya dirumah masing-masing, apakah siswa tersebut merokok, berkelahi dengan temannya di kelas, atau telah melakukan tindak pidana kriminal ?

Setelah kami tanyakan hal tersebut, tehego ndraha sebagai kasek SMK N1 Sogae’adu mengatakan kepada kami, bahwa pihak wali kelas dan guru pendidik telah jengkel dengan ulah dan sikap siswa tersebut yang sering berkelahi dengan siswa lainnya di sekolah.

“Kami tidak bisa lagi mendidik perilaku yang sepertinya sudah mendarah daging tersebut, baik berupa tata kesopanan dan budi pekertinya yang baik telah sirna begitu saja dipengaruhi oleh kawanan anak-anak jalanan luar.

kami telah semaksimal mungkin untuk memberikan pendidikan moral kepada 2 siswa pelajar tersebut, tutur Gafardin menirukan penyataan tehego ndraha.

Lanjut gafardin, sebelumnya pihak sekolah telah mengeluarkan surat pertama sampai ketiga untuk pemanggilan wali atau orang tua siswa tersebut untuk datang ke sekolah agar menjumpai dan memohon maaf kepada para dewan guru atau wali kelasnya, agar perbuatannya tidak terulang kembali. namun kehadiran wali atau orangtua siswa pelajar tersebut hanya datang satu kali pada pemanggilan pertama, itu sebatas membayar biaya tambahan obat luka ringan di bagian hidung.

“bukan hanya sekali ini siswa tersebut melanggar kebijakan sekolah bahkan berkali-kali”.

Terpisah, siswa SMK N1 Sogae’adu yang disinyalir korban yang telah dirampas pendidikannya di sekolah a.n Reformed stevanus lombu, dan Siantori gulo, 2 orang siswa yg dkembalikan pada orangtua Saat di konfirmasi dirumah orang tua siswa. Membantah dengan tegas atas penyataan kasek tersebut.

” kejadian tersebut baru sekali itu saja, dan insiden perkelahian tersebut bermula saat mendatangi ruang kelas kami dengan bergaya preman mengajak duel dengan semua isi ruangan.”

Kami yang secara spontan langsung menyerang dia dan teman-temannya di luar kelas (depan pintu masuk ruang kelas.red).

Dengan insiden kejadian berkelahi tersebut, orang tua saya di surati oleh pihak sekolah untuk datang menyelesaikan pokok permasalahan yang terjadi dan sekaligus bapak saya menberikan biaya ganti rugi atau biaya pengobatan korban dengan nilai besaran 350.000 ( tiga ratus lima puluh ribu rupiah ) bahkan 180.000 ( seratus delapan puluh ribu rupiah ) per satu orang.

Harapan saya, agar saya bisa diberi kesempatan lagi untuk menyelesaikan pendidikan dikejurusan yang cukup langka di kepulauan nias ini, tuturnya mengakhiri pembicaraan.

Hingga berita ini dimuat, belum ada titik terang yang di simpulkan kepada kedua siswa tersebut. (tim)

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.