Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Jembatan Akses Jalan Usaha Tani 2 Blang Palah Sudah Tak Layak

Senin, 5 Februari 2018 | 6:37 pm
Reporter: Muhammad Thaib
Posted by: Darul Kutni
Dibaca: 859

Jembatan Akses jalan usaha tani Blang Palah, Kecamatan Peureulak Barat kondisinya sudah tak layak pakai, diharapkan untuk dapat diperbaiki. (05/02/2018).

Mesin pompa warga sedang menaikan air ke sawah, saat membutuhkan air pada saat waktu tanam dengan biaya tinggi (05/02/2018).

Aceh Timur LintasPe-

Jembatan ukuran 4×4 berkontruksi kayu yang merupakan jembatan penghubung usaha tani 2 di lokasi Blang Palah Kecamatan Peureulak Barat dinilai sudah tak layak, masalahnya selain kayu jembatan yang sudah lapuk juga abudmen jembatan tersebut posisinya sudah miring, ini akan membahayakan para petani untuk membawa hasil tani dan kebutuhan lainnya guna di angkut menuju lokasi areal pertanian masyarakat.

Berdasarkan pantauan awak media lintaspe di lokasi jembatan usaha tani, Sabtu lalu (04/02) memang betul bahwa jembatan usaha tani tersebut kondisinya tak layak pakai. Selain itu, dilokasi areal sawah yang disebut sebagai lumbung pangan Aceh Timur dengan luas diperkirakan mencapai 1.350 Ha tersebut, lening (saluran Air) ke areal persawahan warga yang telah lama dibangun tidak pernah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pendukung pertanian.

Kepala Desa Beusa Sebrang, Saini Husen, didampingi tokoh masyarakat, Suhairi Abu Bakar Muda, saat dijumpai awak media lintaspe mengatakan bahwa ada tiga jembatan yang sama di areal lokasi pertanian Blang Palah, dan ketiga jembatan tersebut kondisinya sudak tak layak pakai, selain itu lening saluran air kesawah dari mulai dibangun sampai saat ini tidak bisa dimanfaatkan, bagi para petani yang ingin kesawah mereka memasukan air dengan menggunakan mesin pompa yang kebetulan ada alur sungai yang di gali di sepanjang areal pertanian tersebut.

“Kami atas nama warga, mengharapkan agar pemerintah Aceh Timur dalam hal ini Dinas Pertanian tidak menutup mata, mengingat salah satu areal pertanian sawah yang luas di wilayah Aceh Timur adalah di Blang Palah ini, bila akses dan sarana kebutuhan pendukung pertanian tidak menjadi prioritas perhatian khusus bagaimana kesejahteraan petani bisa meningkat, ini salah satu bukti lemahnya instansi dibidang pertanian dalam pengembangan sektor pertanian sawah yang juga menjadi target ketahanan pangan nasional”, kata Husaini.

Selain itu, Suhairi Abubakar Muda, selaku warga yang juga memiliki lahan sawah dilokasi areal Blang Palah menjelaskan bahwa petani sawah disini pada umumnya tidak mendapatkan yang khusus dari pemerintah untuk membantu nya selaku petani sawah. “Ya buktinya kita lihat akses sarana jalan usaha tani baik jalan atau jembatan sudah kopak kapik, selama tiga tahun namun luput dari perhatian mereka”, beber Suhairi.

Saat ini bila dihitung biaya cost (pengeluaran) setiap mulai turun sawah sampai memasuki panen, cukup besar biaya yang harus dikeluarkan, misalnya biaya pompanisasi untuk sawah seluas 400 M2. Wajib membayar 1 Kaleng padi hasil panen ( 13Kg / Kaleng) ditambah biaya bajak sawah, perontok, ongkos angkut, pupuk dan penyemprotan, nominalnya mencapai Rp. 300.000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah) / 400 M2 Areal Sawah, lantas apa hasil yang dapat dicapai pihak petani dengan besaran nominal biaya yang dikeluarkan, belum lagi gagal panen, biaya pompanisasi, dan bajak sawah wajib di berikan.

Satu hal yang perlu diperjelas, Suheri mengatakan bahwa “dengan adanya bantuan pemerintah yakni Traktor alat pendukung bajak sawah yang dikelola kelompok tani, juga nilai yang dikeluarkan pihak petani untuk biaya bajak ya sama saja dengan alat bajak dari luar kelompok milik pribadi pengusaha, enggak ada bedanya, jadi mana yang kita sebutkan meringankan beban petani, menurut saya peran pemerintah daerah dalam meningkatkan produktifitas dan peningkatan ekonomi para petani hanya lipstick saja”, jelas nya

Terpisah, Pihak Dinas Pertanian saat dikonfirmasi permasalahan tersebut melalui Sekretaris Dinas Pertanian dan Hultikultura Kabupaten Aceh Timur, Syahrul, di ruang kerjanya menjelaskan bahwa pihak nya selaku penyelenggara di sektor pertanian selalu menaruh perhatian di lokasi areal tersebut, karena disitu merupakan lokasi lumbung pangan terbesar di wilayah Aceh Timur, namun untuk anggaran biaya perawatan untuk sarana, baik jembatan, jalan, lening dan renovasi saluran tidak ada pos anggaran tersebut. “Kalau pun ada kita lakukan melalui pengajuan biaya rehap, itupun belum tentu pasti dapat terealisasi dengan sepenuhnya, pasalnya biaya tersebut masuk dalam pembahasan legeslatif bila anggaran daerah tidak mencukupi ya jelasnya tidak masuk untuk kebutuhan tersebut”, terang Syahrul.

Lebih lanjut, di areal Blang Palah dengan luas areal pertanian mencapai 1.350 Ha kendala utamanya itu adalah kebutuhan air, untuk saat ini masih mengandalkan air yang dari alur sepanjang areal masuk melalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Peureulak, dengan kondisi air pasang surut, selanjutnya dinaikan dengan menggunakan mesin pompa, bila saat sungai surut sudah jelas debit air di alur juga menipis bagaimana pompa air, sementara debit air sudah berkurang, ini kan problem juga.

“Kami Dinas Pertanian Aceh Timur telah merencanakan rancangan untuk membuat saluran air di atas dibantu mesin besar dilokasi tersebut, namun apakah dapat dipenuhi oleh pengambil kebijakan ya kita lihat saja hasilnya, yang jelas lokasi Blang Palah tetap menjadi prioritas oleh kami dan tidak tutup mata dalam hal ini”, tambahnya. (Muhammad Thaib)

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.
error: Woi.. Enggak Boleh Copas !!