Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Lima Kapten Yang Sangat Berpengaruh Di Muba Dalam Perjuangan Terhadap Penjajah

Senin, 17 Agustus 2020 | 10:34 pm
Reporter: Yusmairin @H Yusman Haris
Posted by: Admin
Dibaca: 772
red.H Yusman Haris. Kapten Usman Bakar Pejuang Kemerdekaan RI Di Musi Banyuasin.

red.H Yusman Haris. Kapten Usman Bakar Pejuang Kemerdekaan RI Di Musi Banyuasin.

red.H Yusman Haris. Kapten Usman Bakar Pejuang Kemerdekaan RI Di Musi Banyuasin.
red.H Yusman Haris. Kapten Usman Bakar Pejuang Kemerdekaan RI Di Musi Banyuasin.

 

MUBA SUMSEL LINTASPERISTIWA.COM –

Lima Kapten yang sangat dikenal oleh rakyat Musi Banyuasin, jasanya begitu besar dan nama-nama mereka tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan didalam membela dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia umumnya dan daerah Musi Banyuasin pada khususnya.

Mereka adalah : 1. KAPTEN USMAN BAKAR, 2. KAPTEN AHMAD RIVAi, 3.KAPTEN M QORI , 4. KAPTEN ANIMAN ACHYAT, 5. KAPTEN MAKMUN MUROD

Pada waktu berkecamuknya pertempuran di Front Langkan barulah Makmun Murod datang di Lubuk Guci, Lubuk Guci adalah perkebunan sawit peninggalan sejak zaman penjajahan Belanda.

Makmun Murod sebagai perwira dibantukan di Batalion 30 Resimen 17 Divisi Garuda II. Kemudian Makmun Murod dan Animan Achyat datang ke Pangkalan Balai, Makmun Murod  diminta oleh Usman Bakar untuk memperkuat pertempuran didaerah Sekayu, Makmun Murod dan Usman Bakar memang merupakan kawan akrab diwaktu menjadi Gyugun dizaman penjajahan Jepang. Makmun Murod sangat gembira menerima ajakan dan diberi tugas tersebut, berarti dia mendapat kesempatan untuk berjuang mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia bersama sama teman Usman Bakar lainnya.

Dari Langkan tentara Belanda akan meneruskan serangannya ke Pangkalan Balai dan seterusnya, untuk menghambat laju tentara Belanda ke Pangkalan Balai maka pohon pohon kayu yg besar ditepi jalan ditebang, lalu dirobohkan melintangi jalan untuk menghambat laju tentara Belanda.

Jembatan di Pangkalan Balai sudah dihancurkan, pipa pipa minyak disepanjang jalan sudah siap dibocorkan dan tinggal membakar saja, sementara itu pesawat tentara Belanda terus menerus terbang mengontrol jalan yang dilalui oleh tentara kita dan menembak mobil mobil yang mengangkut tentara. Mobil yang mengangkut tentara ke Betung berkali kali berhenti karena ada pesawat terbang Belanda dan tentara kita berhamburan masuk ke hutan hutan ditepi jalan.

Tidak heran kalau jarak antara Pangkalan Balai dengan Betung dilalui dalam waktu setengah hari disebabkan banyaknya berhenti karena pesawat terbang Belanda.

Usman Bakar sebagai Komandan Batalion 30 menetapkan Sungai Guci sebagai pertahanan, Jembatan Teluk dipasang hambatan berupa karet-karet yang ditumpukkan sepanjang jembatan disusun tinggi tinggi sehingga kendaraan tentara Belanda tidak dapat melaluinya.

Karet-karet yang ratusan ton dipinjam dari pedagang karet dan dari rakyat petani karet demi tanah air rakyat tidak segan segan menyerahkan karetnya berton ton. Diusahakan menghancurkan jembatan Teluk dengan cara mendinamitnya, tetapi ternyata jembatan yang dibuat di zaman penjajahan Belanda di tahun 1936 tidak dapat dihancurkan karena sangat kokoh hanya berlubang sedikit saja.

Tentara kita bahu membahu mempersiapkan dan memperkuat pertahanan di Sungai Guci, boleh dikata Sungai Guci merupakan Front kedua setelah Front Langkan. Komandan Batalion Usman Bakar berada di didusun Bailangu lebih kurang 5 Km dihulu front Sungai Guci. ( cerita ini diambil dari buku pergolakan pergolakan di Musi Banyuasin dikarang oleh H Yusman Haris) @Bersamabung –

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.
error: Woi.. Enggak Boleh Copas !!