Lintas Peristiwa
NEWS TICKER

Asosiasi Geuchik Aceh Utara Berziarah Ke Makam Cut Meutia

Sabtu, 27 Januari 2018 | 10:23 pm
Reporter: Mahdi
Posted by: Darul Kutni
Dibaca: 623

Foto bersama usai berziarah ke makam pahlawan Cut Meutia, Sabtu (27/01/2018).

Aceh Utara LintasPe-
 
Asosiasi Geuchik dua Kecamatan Paya Bakong dan Pirak Timu di Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh berziarah ke makam pahlawan Cut Meutia. Sabtu (27/01/2018).
 
“Kami melakukan ziarah ini guna mengenang kembali dari semangat dan jasa para pendahulu kita yang telah merebut negeri ini dari tangan penjajah,” kata ketua Asosiasi Geusyik, Abubakar kepada awak media lintaspe.
 
Diceritakan Abubakar bahwa dimana awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. 
 
Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Naggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi. Kemudian Tjoet Meutia menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.
 
Dia menjelaskan pula bahwa selanjutnya Tjoet Meutia bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Lalu Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kureng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.
 
Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp1.000. “Itulah sekelumit di antara banyak kisah tentang Cut Meutia yang kini pusaranya mulai di pugar kembali meski agak lamban dan kurang perhatian di pihak pemerintah,” ungkapnya.
 
Memang penziarah ke makam pahlawan Cut Meutia. Pejalan selalu ingin menjamahi  sampai ke daerah yang paling unik. Padahal pesona alam sangat mendukung menjadi sejarah dan tempat wisata. Hutannya masih cukup asri, airnya masih cukup jernih mengalir di setiap percikan nya.. 
 
Kondisi jalan menuju kawasan makam pahlawan rusak. “Kami berharap kepada pemerintah untuk merintis kembali jalan yang di bangun oleh Ilyas Pase pada tahun 2008,  kini hampir tak bisa dilalui,”katanya berharap. (Mahdi)
 

Berita Lainnya

PT. Multi Media Informatika Copyright 2017 ©. All Rights Reserved.